Pesantunan, Desa Mandiri Sampah di Kabupaten Brebes

Bupati memotong rangkaian bunga sebagai tanda peresmian. Sumber: Pemkab Brebes.

Wanasari – Desa Pesantunan resmi dinobatkan sebagai Desa Mandiri Sampah tingkat Kabupaten Brebes tahun 2019. Penobatan ini seiring dengan penandatanganan prasasti dan pembukaan selubung sampah Desa Pesantunan pada Kamis (17/10/2019) kamarin.

Bupati Brebes, Hj. Idza Priyanti S. E., M. H. turut menyikapi persoalan sampah. Menurutnya, sampah menjadi persoalan bersama sampai ke tingkat desa. Oleh karena itu perlu adanya edukasi yang kongkrit mengenai persoalan tersebut.

“Desa sudah saatnya menganggarkan pengelolaan sampah yang antara lain dibiayai lewat Dana Desa,” ungkapnya.

Dengan pengalokasian anggaran melalui dana desa, sampah yang awalnya bencana bisa menjadi berkah jika dikelola dengan baik oleh masyarakat setempat.

Acara peresmian ini juga turut diisi dengan sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2019  tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup merupakan turunan dari Undang – Undang No. 32 Tahun 2019 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Kehadiran Perda ini bertepatan dengan momentum pertumbuhan  dan perkembangan industri yang sedang menggeliat  di Kab Brebes,” jelas Edy Kusmartono selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah Kab. Brebes, seperti yang dilansir dari situs resmi Pemkab Brebes.

Peresmian ini juga dihadiri oleh perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah  Agung Triharnadi SP., Sekda Ir Djoko Gunawan MT, Camat se Kab Brebes, Kades se  Pantura serta tamu undangan lainnya.

Saatnya Ubah Sampah Jadi Berkah

Selama dikelola dengan baik, sampah bukanlah suatu ancaman bagi manusia. Menurut Kepala Biro Humas Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( Kementrian LHK), Djati Witjaksono, sampah dominan di Indonesia adalah sampah organik sedangkan sampah plastik hanyalah 15%. Kenapa justru sampah plastik yang diperbincangkan? Ini dikarenakan sampah organik lambat laun akan hancur dengan sendirinya.

Pengelolaan sampah plastik yang belum optimal akhirnya menimbulkan marine plastics (sampah plastik di lautan). Marine plastics inilah yang kemudian menimbulkan keresahan bersama karena merusak ekosistem laut.

Pengelolaan sampah plastik seharusnya menggunakan pendekatan 3R (reduce, reuse, recycle), karena membuat plastik bernilai guna kembali. Ini pula yang diterapkan pada sistem bank sampah. Bank sampah menjadi perantara antara pengusaha barang olahan sampah dengan masyarakat. Akhirnya, bank sampah mampu menyumbang dampak positif dari sampah.

“Pertumbuhan bank sampah mengalami peningkatan dari 1.172 unit di tahun 2015 menjadi 5.244 unit di tahun 2017. Semuanya tersebar di 34 provinsi dan 219 kabupaten/kota di Indonesia. Keberadaan bank sampah terbukti memberikan dampak positif, baik ke lingkungan, sosial maupun ekonomi, yaitu kontribusi terhadap pengurangan sampah nasional sekaligus peluang pekerjaan serta memberikan penghasilan tambahan. Bahkan, Bank Sampah Induk di Jakarta Barat memiliki omzet per tahunnya mencapai Rp. 4,5 miliar”, ungkap Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementrian KLHK, Rosa Vivien Ratnawati.

Add Comment