Rayakan Hari Santri Nasional, Kabupaten Brebes Deklarasikan Kabupaten Inklusi

Bupati Brebes, Idza menandatangi deklarasi Kabupaten Inklusi. Sumber: Pemkab Brebes.

Kauman – Tahun ini Kabupaten Brebes merayakan Hari Santri Nasional (HSN ) dengan penuh riang gimbira. Hal ini dikarenakan adanya pendeklarasian Kabupaten Brebes menjadi Kabupaten Inklusi. Pendeklarasian tersebut merupakan hasil kerjasama antara UNICEF dengan Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan Ma’arif (PW LP Maarif) Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Brebes.

Penandatanganan deklarasi oleh Bupati Brebes, Idza Priyanti, S. E., M. H. menjadi salah satu rangkaian kegiatan HSN. “rangkaian Hari Santri tingkat Kabupaten Brebes diantaranya upacara peringatan hari Santri Nasional di Alun-Alun Brebes, Penandatanganan Kabupaten Brebes menjadi Kabupaten Inklusi, Penandatangan bersama Petisi Brebes Kabupaten Inklusi, rangkaian permainan bagi anak berkebutuhan khusus, Pameran Karya Anak Berkebutuhan Khusus, seminar nasional tentang Brebes Kudu Inklusi melalui Peran serta Pemkab dalam melindungi, dan memenuhi Anak berkebutuhan khusus.”, jelas H. Athoillah selaku ketua panitia.

Dikutip dari situs resmi Pemkab Brebes, isi deklarasi tersebut ialah:
Satu, berkomitmen untuk mendukung sepenuhnya terhadap pelaksanaan program pendidikan inklusi di Kabupaten Brebes.
Dua, siap mengemban amanat sebagai kabupaten inklusi dengan memberikan layanan terbaiknya terhadap anak berkebutuhan khusus dalam seluruh proses layanan publik dengan prinsip kesetaraan dan tanpa diskriminasi sebagaimana peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Tiga, siap mendorong bagi tersedianya sarana publik yang bisa diakses oleh anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas demi kemajuan bangsa dan Negara.
Empat, memberikan jaminan atas regulasi berupa Perda, Perbup ataupun lainnya termasuk penganggaran untuk anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas baik bersumber dari APBD Kabupaten maupun dukungan dari dana desa untuk nasib terbaik bagi mereka.
Kelima, ikut mempromosikan, melindungi, dan memenuhi hak-hak anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas di Kabupaten Brebes.

Arie Rukmantara selaku Kepala Perwakilan UNICEF Jawa mengaturkan selamat kepada Pemkab Brebes atas deklarasi tersebut. Ini membuktikan bahwa upaya Bupati Brebes memenuhi kebutuhan anak semakin berkualitas.

“Pendidikan inklusif, sesuatu yang masih harus dikampanyekan, maka kami berharap Brebes menjadi lead campaigner, menjadi duta, dan menjadi promotor dari pentingnya pendidikan inklusif, bahwa tidak boleh ada anak yang tidak sekolah apapun kekurangannya dan kelebihannya, atau keistimewaannya,”jelas Arie.

Memanusiakan Difabel

Survei Sosial Ekonomi Nasional (susenas) yang dilakukan BPS tahun 2012 mendapati jumlah penduduk Indonesia yang menyandang disabilitas, yakni 2,45%. Disebutkan pula bahwa jumlah keterbatasannya tidak hanya satu jenis saja, tentunya ini menyulitkan mereka untuk beraktivitas secara normal.

WHO memperkirakan jumlah anak penyandang disabilitas di Indonesia pada tahun 2003 sebesar 7-10% dari total jumlah pendudukan Indonesia. Sekitar 295.250 anak berada di masyarakat dalam pembinaan dan pengawasan orang tua dan keluarga. Hal ini dilansir dari pusat data dan informasi Kemkes RI.

Lewat pendidikan inklusi ini diharapakan bisa untuk lebih memanusiakan penyandang disalibitas. Mengingat banyak hak yang tidak terpenuhi sehingga banyak menghambat mereka, terlebih kasus diskriminasi yang diterimanya.

Pendidikan inklusi menyatukan anak normal dan berkebutuhan khusus karena dalam konsep ini yang menjadi fokus adalah bakat sang anak, bukan perbedaan secara fisik. Sehingga penyandang disabilitas bisa bernafas lega, karena mereka akan diterima dengan tangan terbuka.

Add Comment