BKKBN : Penanganan KB Harus Dengan Aksi Bukan Diskusi

Kepala BKKBN saat meninjau Puskesmas Kecipir. Sumber: Pemkab Brebes.

Losari – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat meninjau pelayanan KB di Puskesmas Kecipir, Kecamatan Losari, Brebes, Selasa (29/10). Maksud kedatangannya untuk melihat secara langsung pelaksanaan pelayanan KB mengingat di daerah perbatasan kadang sulit dijangkau dengan medan yang sangat sulit.

“Tentu dengan didatangi kami, Ibu Bupati dan pihak-pihak terkait para akseptor dan petugas pelayanan akan termotivasi,” ungkap dr. H. Hasto Wardoyo, SpOG sebagai Kepala BKKBN Pusat. Selain itu, kedatangannya juga untuk menurunkan angka stunting. Pihaknya juga menyampaikan apresiasi kepada Bidan, Penyuluh KB, TNI/Polri, Organisasi kemasyarakatan, dokter yang telah berperan dalam menyukseskan program KB.

Urusan keluarga berencana dan pengendalian penduduk serta urusan pembangunan keluarga pada UU No. 23 tahun 2014 merupakan urusan pemerintah pusat dan daerah.

Bupati Brebes, Hj. Idza Priyanti, S. E., M. H. menuturkan bahwa Pemkab Brebes telah menyiapkan anggaran yang besar melalui Dinas Kesehatan dan DP3KB untuk mengurangi angka stunting, pengurangan kematian ibu dan anak dengan pencegahan sedini mungkin.

Sri Gunadi Parwoko selaku Kepala DP3KB Kabupaten Brebes melaporkan pada wilayah Perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat ada sekitar 330 Akseptor dan 61 akseptor memilih kontrasepsi jangan panjang berupa IUD. dr. Hasto pun menginginkan penanganan KB jangan hanya sampai pada tahap diskusi saja namun harus disertai aksi.

Dilansir dari laman Pemkab Brebes, acara ini dihadiri Bupati Brebes, Idza Priyanti, S. E., M. H. beserta suami Drs. H. Warsidin; Kepala BKKBN Pusat, dr. Hasto Wardoyo; Kepala Perwakilan BKKBN Propinsi Jawa Tengah, Wagino, S. H., M. Si.; Sekretaris BKKBN Propinsi Jawa Barat, Rahmat Mulkan; direktur jalur swasta BKKBN RI, Drg. Widyono; Kepala DP3AP2KB Propinsi Jawa Tengah, Dra. Retno Sudewi; Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, dr. Sartono; Kepala DP3KB Brebes, Sri Gunadi Parwoko; Ketua IDI Brebes, Munaryo; Ketua IBI Brebes, Hj. Mahmudah; para Kepala SKPD terkait serta tamu undangan lainya.

Berhasil Menekan Angka Kelahiran

Riset terkait proyeksi penduduk Indonesia pada tahun 2010-2035 yang dilakukan BPS menyebutkan bahwa selama rentang waktu tersebut penduduk Indonesia akan terus bertambah, yakni dari 237 juta jiwa menjadi 305 juta jiwa. Namun Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) justru menurun dari 1.49% menjadi 0.6%.

Melambatnya laju pertumbuhan tersebut dikarenakan turunnya angka kelahiran hampir di seluruh wilayah Indonesia sejak tahun 1970-an. Ini merupakan tahun pertama dibentuknya BKKBN, yang mana mereka memfokuskan pelayanannya pada 3 hal diantaranya mengatur kehamilan atau menjarangkan kehamilan, mengobati kemandulan serta memberi nasihat perkawinan.

Disebutkan pada tahun tersebut angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) di Indonesia sejumlah 5,6 anak per satu perempuan dan mengalami penurunan pada tahun 2015 yakni menjadi 2,3 anak per satu perempuan. Ini berarti program dua anak lebih baik dari BKKBN sukses melepaskan masyarakat dari doktrin banyak anak banyak rejeki.

Menurut Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa) RI, turunnya TFR beriringan dengan meningkatnya konsern masyarakat terhadap kualitas anak.

Add Comment