Gelar Peraganaan Batik, Dekranasda Promosikan Batik Brebesan

Para peserta peragaan busana foto bersama. Sumber: Humas Pemkab Brebes.

Bulakamba – Peragaan ini diselenggarakan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Brebes di Rest Area KM 260 B, Sabtu (16/11) lalu. Tujuannya untuk menaikkan nilai jual Batik Brebesan di kancah nasional. Terlebih Batik Brebesan kini tidak lagi hanya Batik Salem saja, melainkan ada pula Batik Mangrove, dan Pandasari Brebes.

Menurut Bupati Brebes, Hj. Idza Priyanti, S. E., M. H., ketika masyarakat Brebes sudah mulai cinta akan produk lokal, dalam hal ini Batik Brebes, itu menjadi modal berharga bagi perkembangan produk lokal tersebut. “Karena dengan adanya kecintaan, akan muncul keinginan untuk mengembangkan sekaligus melestarikan Batik Brebesan yang melegenda,” ujarnya.

Idza juga menyampaikan, adanya ajang peragaan batik ini bisa meningkatkan dan mengembangkan daya imajinasi, kreativitas desainer dan peserta. Sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat umum mengenai hasil karya para pengrajin yakni Batik Brebesan. “Dengan penempatan peragaan di Rest Area Banjaratma yang telah menjadi rest area Primadona dan terbaik se Jawa Tengah dan mengandung heritage, nilai-nilai sejarah,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kabupaten Brebes, Drs. H. Warsidin, M. H. memaparkan jumlah peserta peragaan busana Batik Brebesan, totalnya 77 peserta yang dibagi ke dalam 4 kategori. Untuk kategori pelajar putri diikuti 25 peserta dan kategori pelajar putra 13 peserta; sedangkan untuk kategori umum diikuti peserta putra sebanyak 16 orang dan peserta umum putri 23 peserta.

Ada 2 ketentuan penilaian pada peragaan busana kemarin yakni yang pertama sesuai tema, busana kasual yang bisa dipakai siapapun dan dimanapun. Kedua, komposisi busana yang terdiri dari 70% Batik Brebesan dan kombinasi tenun tanpa payet dan bordir 30%.

“Kami juga menggelar Lomba mewarnai Batik Brebesan ada  juga Art Competation. Di Art Competation, peserta menampilkan tari tradisional, tari modern, gerak dan lagu. Untuk Peserta mewarnai, diikuti lebih kurang 500 anak Taman Kanak-Kanak (TK) dan Kelompok Bermain (KB) perwakilan dari Kecamatan Brebes, Wanasari dan Bulakamba,” kata Warsidin.

Dilansir dari laman Pemkab Brebes, juara ketegori peserta umum pria diraih oleh Yoga Slamet Wahyudi dari Dinkominfotik sebagai juara 1. Juara 2 Bagus Ardiansyah dan Juara 3 Haris Aril Nur Fahmi dari Dindikpora. Kateagori Peserta Umum Putri, juara 1 Dina Safira dari duta anti Narkoba Kab Brebes, Juara 2 Nila Kartika dari DPD DAPR dan Juara 3.Indah Wijayanti dari DLHPS. Sedangkan Kategori Pelajar Putri Juara 1 Tiara Nisa Puspita dari SMKN I Brebes, Juara 2 Silva Sherlina Putri SMA 1 Salem dan Juara 3 Shintiya Ariana dari SMKN 1 Berbes. Sedangkan Kategori Pelajar Putra juara 1 Rake Simamurti dari SMA 1 Bulakamba, Juara 2 Fahmi Khubasani dari SMA 1 Brebes dan Juara 3 Diky Mustofa SMA N 1 Tanjung.

Batik Salem

Batik ini adalah salah satu batik khas dari Kabupaten Brebes. Batik ini banyak diproduksi di Desa Bentarsari dan Desa Bentar Kecamatan Salem. Asal usul Batik Salem dikaitkan dengan cerita kedatangan putri pejabat Pekalongan yang bernama Ibu Sartumi dari Wiradesa Pekalongan. Kemudian putri tersebut jatuh cinta dengan pemuda asal Bentarsari. Keduanya menikah dan akhirnya menetap di desa tersebut. Sejak saat itu batik mulai muncul di daerah tersebut dan terus berkembang hingga ke desa sebelahnya.

Batik ini memiliki lebih dari 20 motif, namun ada 3 motif yang khas dan hanya bisa dibuat oleh pengrajin yang berpengalaman. Motif tersebut ialah kopi pecah, manggar, dan sawat rantai. Hal tersebut dibenarkan oleh seorang maestro sejarawan Brebes, Atmo Tan Sidik disalah satu portal media online.

Rudi Iskandar dalam Journal of Indonesian History menuliskan bahwa produksi dan pemasaran Batik Salem pada awalnya tidak banyak, batik ini masih asing dalam telinga. Hingga pada tahun 2002, setelah Bupati Brebes waktu itu, Indra Kusuma S. Sos. mewajibkan seluruh PNSnya untuk memakai batik tersebut, pemasaran Batik Salem meningkat tajam.

Pada laman yang mengulas mengenai batik disebutkan bahwa Batik Salem ini memiliki ciri khas yang dipengaruhi oleh batik daerah lainnya. Pola buketan misalnya, ini mirip dengan Batik Pekalongan; segi pewarnaan batik ini mirip dengan Batik Surakarta dan Yogyakarta bentuk pola, dan pilihan motif mirip Batik Tegal dan dari segi pewarnaan soga mirip dengan Batik Banyumas.

Add Comment