Hindari Inflasi, Pemkot Samarinda Ajak Pemkab Brebes Kerjasama Bawang Merah

Rombongan TIPD Samarinda melihat produksi bawang merah. Sumber: Pemkab Brebes.

Wanasari – Berupaya menekan inflasi di daerahnya, Pemerintah Kota Samarinda membeli bawang merah di Brebes. Hal ini dilakukan karena produksi bawang disana cenderung kurang sehingga tidak mencukupi bahkan sulit mendapatkan bumbu dapur tersebut. Pemkot Samarinda mengajak Pemkab Brebes untuk mau bekerjasama mengenai pembelian bawang merah terlebih untuk persiapan natal dan tahun baru nanti.

Asisten II Pemkot Samarinda, Endang Liansyah yang juga sebagai Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mengunjungi Brebes untuk melihat tanaman bawang di Desa Jagalempeni, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Senin kemarin (11/11/2019). Kedatangan rombongan TPID Samarinda tersebut disambut baik oleh Bupati Brebes, Hj. Idza Priyanti S. E., M. H., pihaknya berharap dengan adanya kerjasama ini bisa memberi manfaat pada kedua belah pihak yakni Brebes dan Samarinda.

Sayang Bupati Idza tidak bisa menemani rombongan hingga dikarenakan ada rapat paripurna DPRD. Maka selanjutnya rombongan dari Samarinda ditemani Wakil Bupati Narjo S. E., M. H. untuk  melihat tanaman bawang merah di Desa Jagalempeni. Selain itu, mereka juga melihat pembuatan pasta bawang merah yang dikelola badan usaha milik petani dengan nama PT Sinergi Brebes Inovatif.

“Bawang Pasta ini sekarang sedang mempersiapkan pesanan dari Arab Saudi sebanyak 4 ton berupa bawang merah  pasta yang sudah dikemas sesuai dengan standar kelayakan ekpor,” tutur Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Brebes Juwari.

Juwari juga menuturkan harga bawang merah saat ini mencapai Rp 21 ribu per kilogram. Menurutnya, harga bawang merah tinggi karena pengaruh musim kemarau yang tak kunjung usai sehingga menyebabkan telat tanam. “Tak banyak petani yang tanam bawang karena kesulitan air,” jelasnya.

Dilansir dari laman Pemkab Brebes, kunjungan ini juga dihadiri oleh Staf Ahli Bupati Dra. Chozanah, Kepala Pertanian Ketahanan Pangan Ir. Yulia Hendrawati, M. Si.,   Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Zaenudin serta tamu undangan lainnya.

Apa itu Inflasi?

Pengertian inflasi menurut Sadano Sukirno dalam buku makro ekonomi adalah suatu proses kenaikan harga-harga yang berlakudalam suatu perekonomian. Inflasi bisa disebabkan karena kebutuhan masyarakat yang meningkat tidak dibarengi dengan distribusi barang yang memadai.

Distribusi barang yang tidak merata akan menyebabkan harga yang tidak stabil dan pada akhirnya menimbulkan inflasi. Ada beberapa pihak yang mengalami keuntungan ketika terjadi inflasi, diantaranya pengusaha dan debitur. Debitur atau mereka yang meminjam uang di bank akan sangat diuntungkan dengan adanya inflasi karena nilai uang turun sehingga lebih ringan ketika pengembalian pinjaman. Sementara bagi pengusaha yang barang dan jasanya selalu dicari akan sangat diuntungkan karena meskipun harga melambung tinggi namun masih akan tetap laku.

Namun tetap saja pemerintah sebisa mungkin menekan  terjadinya inflasi. Inflasi bisa mengakibatkan ketidak kestabilan perekonomian dan penjualan barang pada suatu negara yang kemudian berujung pada krisis ekonomi. Masyarakat Indonesia sudah pernah merasakannya pada tahun 1998.

Jusuf Kalla menggambarkan inflasi serupa dengan tekanan darah. Menurutnya tekanan darah harusnya stabil, orang yang tekanan darahnya tinggi juga akan mengalami pusing begitu pun dengan mereka yang tekanan darahnya rendah.

Darmin Nasution menyebutkan ada 4 hal yang bisa mencegah inflasi yakni terjangkaunya harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif. “Strategi tersebut telah berhasil menjaga inflasi dalam 4 tahun terakhir. Laju inflasi 2018 sebesar 3,13 persen year on year dan inflasi bulan Juni 2019 sebesar 3,28 persen year on year,” jelasnya.

Add Comment