SMPN 4 Larangan Peringati Hari Anak Nasional Bersama PATBM dan Kelas Inspirasi Brebes

Peringatan Hari Anak Sedunia di SMPN 4 Larangan. Sumber: DP3KB Kabupaten Brebes.

Larangan – Berkolaborasi dengan Relawan Kelas Inspirasi Brebes, Relawan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) Desa Wlahar Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes peringati Hari Anak Sedunia bersama warga SMPN 4 Larangan. Mereka mengadakan kegiatan belajar sehari di halaman sekolah, Kamis (7/11/2019) kemarin.

Belajar sehari di luar kelas ini dimanfaatkan teman-teman relawan untuk mensosialisasikan mengenai perlindungan anak. Para siswa terlihat antusias dan seluruh warga sekolah berbaur dalam kegiatan tersebut. “Ada tepuk hak anak, tentang menjadi pelopor dan Pelapor, bahkan juga mengenai minat bakat anak untuk mereka senantiasa dalam menumbuhkan untuk menjadi pribadi yang progresif,” ujar Ketua PATBM Desa Wlahar, Eko Dardirjo.

Dilansir dari laman DP3KB Kabupaten Brebes, pada kegiatan tersebut para siswa juga diajari mengenai cara cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan juga mensosialisasikan tentang Pola hidup, bersih dan sehat (PHBS).

Bidang Kesiswaan SMPN 4 Larangan, Siwi Sitoresmi menuturkan kegiatan tersebut bisa membangkitkan semangat siswa. “Siswa kelihatan ceria ketika mengikuti belajar dengan sosialisasi mengenai perlindungan anak dan juga mengenai kesehatan bahkan saat praktek cuci tangan pakai sabun.  Harapannya tidak lain pula, mereka merasa bahagia dengan suasana yang tidak biasa, dan juga belajar diluar kelas bisa dilaksanakan di momentum lainnya,” ungkapnya.

Selamatkan Anak Indonesia dari Kaum Pedofil

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) secara terbuka meminta masyarakat untuk lebih peka membangun kesadaran perlindungan anak terhadap kekerasan seksual. Putu Elvina seorang komisioner KPAI meminta keluarga berperan sebagai pelindung anak, dengan begitu upaya untuk mengurangi kasus kejahatan seksual pada anak dapat terkurangi.

“Orang tua juga harus membangun keluarga yang berkarakter dan berakhlak, menciptakan kondisi lingkungan yang aman bagi anak, serta edukasi pada anak tentang bahaya kejahatan seksual dan bagaimana cara melindungi diri,” tutur Putu Elvina.

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto mewajibkan orang tua untuk meluangkan waktu bercerita bersama anak agar kehangatan dengan anak terbangun sehingga tidak mencari sosok lain untuk perlindungannya. Menurutnya, modus kaum pedofil sering memposisikan dirinya sebagai sosok pelindung bagi anak.Pedofil adalah gangguan seksual pada pria yang tidak dapat menahan nafsunya terhadap remaja atau anak-anak.

“Jangan sampai anak minus perhatian sehingga mencari sosok lain yang ternyata kaum pedofil. Pedofil seringkali memposisikan diri sebagai sosok pelindung bagi anak, meski sejatinya itu modus kejahatan,” ujar Susanto.

Sementara itu, Yohana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PP dan PA) menilai perlunya kesadaran keluarga Indonesia dalam hal pengasuhan agar hak dan perlindungan anak terpenuhi dengan baik. Beliau juga menerangkan baik buruknya anak bergantung pada pola asuh yang diberikan keluarganya.

“Keluarga merupakan awal mula pembentukan kematangan individu dan struktur kepribadian seorang anak. Anak-anak akan mengikuti dan mencontoh   orang tua dengan   berbagai kebiasaan dan perilaku karena anak adalah kelompok makhluk yang rentan karena berusia kurang dari 18 tahun. Jadi baik buruknya karakter/perilaku  anak di masa datang sangat ditentukan oleh pola pengasuhan yang diberikan oleh keluarganya dan lingkungan terdekatnya,” ujar Yohana.

Add Comment