Wakapolda Jateng Cek Pospam Exit Tol Brebes Timur

Wakapolda Jateng saat mengunjungi Pospam di Kabupaten Brebes. Sumber: Humas Polda Jateng.

Banjaranyar – Wakapolda Jateng, Brigjen Polisi Ahmad Luthfi mengunjungi sejumlah daerah di Jawa Tengah terkait pengamanan Natal dan tahun baru 2020. Dalam tour-nya itu, Wakapolda Jateng mengunjungi beberapa pos pengamanan (pospam) dan gereja. Pospam Exit Tol Brebes Timur tak luput dari kunjungan Brigjen Polisi Ahmad Luthfi, Senin (23/12/2019) sore kemarin.

Tak lupa, Wakapolda Jateng memberi semangat kepada anggotanya yang sedang bertugas dalam Pos Pengamanan dan Pelayanan Operasi Lilin Candi 2019. Ia pun memastikan anggotanya untuk paham betul dengan tugas dan tanggung jawabnya dalam penjagaan nataru ini.

”Wajib hukumnya polisi dibantu TNI dan Dinas terkait lainya untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru 2020. Jadi, polisi memberikan jaminan keamanan untuk melaksanakan ibadah maupun melaksanakan hiburan,” ujar Brigjen Polisi Ahmad Luthfi.

Dilansir dari laman resmi Polda Jateng, Wakapolda Jateng mengunjungi beberapa tempat di Jawa Tengah didampingi sejumlah PJU Polda Jateng. Sesampainya di Brebes, rombongannya disambut langsung oleh Kapolres Brebes, AKBP Aris Supriyono beserta jajaran serta Dandim 0713 Brebes letkol Inf Faisal Amri dan Dinas terkait lainya yang terlibat dalam pos pengamanan terpadu.

Tragedi 19 Tahun Silam

Bagi jemaat Gereja Sidang Jemaat Pantekosta di Indonesia (GSJPDI) Eben Haezer, Mojokerto, Jawa Timur tentu peristiwa kelam 19 tahun silam tak akan pernah terlupakan. Pada misa Natal, 24 Desember 2000 malam, sebuah bom meledak dalam dekapan seorang anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Banser berjiwa besar itu bernama Riyanto. Berdasarkan beberapa sumber, terdapat dua versi cerita mengenai gugurnya anggota Banser Nahdlatul Ulama ini. Pertama, ia membuang bom tersebut ke dalam selokan dan tidak sempat menyelamatkan diri. Dan kedua, bom tersebut meledak dalam dekapannya sebelum sempat dibuang olehnya.

Apapun versi ceritanya, Riyanto tak terlupakan hingga saat ini. Terlebih oleh jemaat gereja yang menjadi tempat terakhir kali dirinya bertugas. Salah satunya, Rudi Sanusi Wijaya, seorang pendeta gereja Eben Haezer. Dilansir dari portal berita online, pada malam itu terdapat dua bom yang diletakan secara terpisah, satu di dalam gereja dibawah bangku jemaat dan satu lagi di bawah telepon umum yang lokasi tak jauh dari gereja.

“Setelah ledakan pertama yang menewaskan Riyanto, pengurus gereja teringat ada tas mencurigakan di dalam. Olehnya, tas itu dibawa keluar dan diletakkan di tengah jalan. Bom kedua pun meledak, namun pengurus gereja sudah berlari masuk ke dalam,” tuturnya seperti yang dikutip dari salah satu media online.

Add Comment