Mengenal Kampung Adat Jalawastu di Brebes yang Jadi Warisan Budaya Indonesia

Bupati Brebes saat memberikan sambutan pada pelaksanaan upacara Adat Ngasa. (Foto: Pekmab Brebes)

Ketanggungan – Kampung Adat Jalawastu yang terletak di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Brebes, pada Selasa (10/3/2020) dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kategori Ritus Adat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kampung adat ini dinilai memiliki keunikan serta menjadi bagian dari obyek pemajuan kebudayaan.

Sertifikat penobatan diserahkan saat pelaksanaan upacara Adat Ngasa oleh Kabid Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Agus Tristanto, kepada Bupati Brebes Idza Priyanti, dan selanjutnya diserahkan kepada Pemangku Adat Kampung Jalawasto, Darsono.

Agung menjelaskan, penobatan Kampung Jalawastu sebagai WBTB sebenarnya sudah ditetapkan sejak Oktober 2019. Hanya saja, penyerahan sertifikatnya menunggu momen bersejarah, yaitu pada saat pelaksanaan upacara Adat Ngasa.

“Dengan diberikan pengakuan secara nasional, semoga menjadikan daya dorong bagi Kampung Jalawastu dalam pengembangan kampung budaya ini untuk mempertahankan adat istiadat dan pengembangan lainnya,” kata Agung.

Sementara itu, Idza Priyanti mengimbau agar warga setempat senantiasa mempertahankan tradisi Adat Ngasa Kampung Jalawastu yang sudah dikenal masyarakat dunia. Segala kearifan lokal yang ada harus terus dipertahankan, sehingga tradisi yang adi luhung bisa terus bertahan dan lestari. Pihaknya berkomitmen akan senantiasa memperhatikan Kampung Jalawastu dengan penambahan infrastruktur dan lainnya.

Keunikan Kampung Jalawastu

Kampung Jalawastu memang dikenal unik oleh masyarakat sekitar. Di era modern saat ini, warga kampung setempat masih mempertahankan bangunan rumah tradisional berlantai tanah, berdinding lempengan kayu, dan beratapkan jerami. Masyarakat di pedukuhan yang letaknya berada sekitar 60 kilometer dari pusat kota Brebes ini masih memegang teguh tradisi yang mereka anut.

Membangun rumah dengan menggunakan semen, keramik, dan genteng merupakan pantangan bagi mereka. Pantangan itu sudah diyakini oleh masyarakat setempat selama ratusan tahun secara turun temurun. Masyarakat meyakini, membangun rumah tanpa menggunakan semen dan keramik bisa mencegah terjadinya bencana longor, mengingat desa tersebut berada di kawasan perbukitan, Gunung Kumbang.

Menurut cerita warga setempat, Carmi (50), mereka tidak berani melanggar pantangan-pantangan itu. Dari kesaksiannya di tahun 2000, pernah ada seseorang yang mencoba melanggar, kemudian timbul bencana tanah longsor.

Sampai saat ini, kampung yang dihuni 350 jiwa dan 120 keluarga ini rumah-rumahnya tanpa menggunakan bahan semen dan keramik. Di kampung itu, genteng pun tidak bisa ditemui sebagai atap rumah. Warga memilih menggunakan jerami maupun seng untuk menutupi bagian atas rumah.

Add Comment