Pesantren sebagai Tonggak Pembangunan dan Pendidikan Desa Benda

Pondok Pesantren Al-Hikmah di Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. ALHIKMAHDUA

Desa Benda, merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Kecamatan Sirampog terletak pada ketinggian 445 mdpl dengan luas wilayah 7.418,51 hektare, kecamatan ini terbagi menjadi 13 desa. Desa Benda sendiri letaknya sembilan kilometer dari Ibukota Kecamatan Sirampog.

Sebelah selatan Desa Benda berbatasan langsung dengan Kecamatan Bumiayu, sebelah barat dan utara berbatasan dengan Kecamatan Tonjong, dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Kaliloka, yaitu salah satu desa yang masih masuk dalam wilayah Kecamatan Sirampog.

Sejarah terbentuknya Desa Benda sudah dimulai sejak zaman sebelum kemerdekaan. Hal ini dapat dibuktikan dengan catatan histori yang menuliskan seorang bernama Santayuda sebagai kepala Desa Benda pertama pada tahun 1912-1923.

Setelah Santayuda, kepemimpinan Desa Benda kemudian dilanjutkan oleh Naya Wijaya sebagai kepala desa ke-2, dan berlanjut ke H. Damin sebagai kepala desa ke-3, H. Zazuli kepala desa ke-4, dan KH. Zaruki sebagai kepala desa ke-5, yang memimpin dari tahun 1943 hingga 1948. Setelah kemerdekaan, estafet kepemimpinan Desa Benda dilanjutkan dengan sistem demokrasi, yang mana kepala desa dipilih dari hasil suara terbanyak.

Berdasarkan cerita turun temurun, nama Benda dipilih sebagai nama desa karena dulunya ada sebuah pohon besar bernama pohon Benda yang tumbuh subur di wilayah ini. Sehingga masyarakat sekitar memberi nama Desa Benda.

Pohon Benda atau yang biasa disebut juga tekalong, atau terap adalah sejenis pohon buah yang masih satu marga dengan nangka (Artocarpus). Buahnya mirip dengan buah timbul atau kulur, dengan tonjolan-tonjolan serupa duri lunak panjang, pendek, dan agak lengket. Nama ilmiah dari tanaman ini adalah Artocarpus Elasticus.

Desa Benda terbagi menjadi delapan dukuh yaitu Benda I, Benda II, Karang Tengah, Karang Mulya, Kratagan, Bulakwungu, Jetak, dan Kalisalak. Setiap dukuh dikepalai oleh seorang kepala dukuh atau bahu. Antara satu dukuh dengan dukuh lain dihubungkan dengan jalan-jalan desa, yang luasnya tidak lebih dari tiga meter. Rumah-rumah warga bersifat berkelompok dan sebagian besar berjajar menghadap jalan desa.

Dikutip dari website resmi Desa Benda desakubenda.com, saat ini penduduk Desa Benda berjumlah 9992 jiwa, dengan total 5130 orang berjenis kelamin laki-laki dan 4862 berjenis kelamin perempuan.

Sebagian masyarakat di Desa Benda berprofesi sebagai petani dan buruh tani, karena jika dilihat dari kondisi geografisnya, sebagian besar wilayah Desa Benda masih merupakan wilayah persawahan yang luasnya mencapai 235.004 hektare dari 365.425 hektare luas keseluruhan wilayah Desa Benda.

Pada umumnya, masyarakat Desa Benda yang bekerja adalah laki- laki atau kepala rumah tangga, baik sebagai petani, pegawai ataupun pekerja serabutan. tetapi, tidak sedikit pula para wanita juga bekerja sebagai buruh serabutan, pedagang dan sebagainya.

Karena bagi mereka, pendapatan yang mereka dapat dari pekerjaan itu cukup untuk menambah kebutuhan pokok atau keperluan makan sehari-hari, walaupun sebenarnya masih memerlukan kebutuhan yang lainnya, seperti rumah dan kebutuhan sandang.

Dalam hal pendidikan, masyarakat Desa Benda merupakan masyarakat yang beruntung, karena wilayah Desa Benda termasuk menjadi pusat dalam pendidikan, baik formal maupun pendidikan non-formal. Perkembangan pendidikan di Desa Benda juga didorong dengan adanya pondok pesantren Al-Hikmah, yang merupakan salah satu ponpes paling berpengaruh di Brebes dalam pendidikan dan penyebaran agama islam.

Berdirinya Pondok Pesantren Al-Hikmah Sebagai Tombak Pendidikan dan Penyebaran Islam di Desa Benda

Pondok pesantren Al-Hikmah didirikan pada tahun 1911 di Desa Benda oleh KH. Kholil Bin Mahalli. Berdirinya Pondok Pesantren Al-Hikmah diinisiasi oleh KH. Kholil Bin Mahalli karena melihat kondisi masyarakat yang masih rawan akan pengetahuan agama.

Menggunakan metode bi al-hikmati wa al-mauizhati al-hasanah (bijaksana dan nasihat yang baik) serta keikhlasan berdakwah, beliau mengadakan pengajian di surau-surau dan di rumahnya sendiri. Tak hanya itu, bahkan KH. Kholil Bin Mahalli menggunakan metode door to door untuk menyebarkan agama islam.

Kondisi masyarakat Desa Benda yang masih rendah dalam hal kualitas pengetahuan dan pengamalan agama Islam membuatnya lebih bersemangat dalam berdakwah. Ia menerapkan metode Qur’ani dengan mengunjungi rumah-rumah penduduk untuk memberikan pelajaran dan bimbingan tentang hidup dan kehidupan menurut ajaran Islam.

Tahun 1922 KH. Kholil Bin Mahalli kemudian dibantu keponakannya, KH. Suhaemi Abdul Ghani yang baru pulang dari menuntut ilmu di Mekkah untuk merubah keadaan masyarakat Desa Benda dari keterbelakangan menjadi setingkat lebih maju baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, kebudayaan terutama kebudayaan agama.

Suhaemi kemudian mulai membangun asrama untuk tinggal para santri, dibangunlah sembilan kamar, karena pada saat itu ada cukup banyak santri yang berasal dari luar daerah Benda dan jumlahnya semakin meningkat. Dari sinilah kemudian dikenal sebagai ‘Pondok Pesantren Al-Hikmah’.

Kemudian pada tahun 1930, sembilan belas tahun sejak pertama kali dirintis, Al-Hikmah mulai merintis sistem pendidikan secara klasikal yaitu dengan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah dengan nama Madrasah Ibtidaiyah Tamrinussibyan. Tahun 1932 Ponpes Al-Hikmah akhirnya berhasil meluluskan santri-santri yang penghafal Al-Quran, bahkan beberapa santri sudah khatam bi al-ghoib.

Dengan prestasi ini, pesantren Al-Hikmah kemudian mulai mencuat namanya ke berbagai daerah. Seiring dengan perkembangan tersebut, maka kegiatan pesantren ini menjadi semakin kompleks. Kegiatan yang ada kemudian tidak hanya sebatas menghafal Al-Qur`an, tetapi sudah dibarengi dengan pendalaman dan pengajian kitab kuning oleh alumni muda dari berbagai pesantren.

Aktivitas Al-Hikmah sempat terhenti pada saat masa penjajahan Belanda. Belanda menganggap kegiatan di pondok pesantren Al-Hikmah sebagai kelompok pengobar semangat juang. Akibatnya asrama santri dihancurkan dan dibakar oleh tentara Belanda, beberapa ustaz dan kiai juga ada yang ditangkap dan dibunuh.

Setelah masa kemerdekaan lewat, barulah aktivitas Al-Hikmah dijalankan kembali pada tahun 1952. KH. Kholil dan KH. Suhaemi mulai membangun lagi gedung-gedung yang hancur dan menata ulang manajemen pondok pesantrennya.

Tahun 1955 KH. Kholil Bin Mahalli wafat, yang kemudian KH. Suhaemi yang juga wafat beberapa tahun setelahnya, yaitu pada tahun 1964. Sepeninggal KH. Kholil dan KH. Suhaemi, pengelolaan pondok pesantren Al-Hikmah kemudian diteruskan oleh KH. Masruri Abdul Mughni yang merupakan cucu dari KH. Khalil dan dibantu oleh KH. Shodiq Suhaemi anak dari KH. Suhaemi.

Di bawah kepemimpinan KH. Masruri dan KH. Shodiq, pondok pesantren Al-Hikmah berhasil tumbuh dan maju dengan sangat pesat. Mereka berhasil mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang saat ini jumlahnya sudah mencapai puluhan sekolah, mereka juga berhasil membawa Desa Benda menjadi desa yang hidup akan pendidikan dan keislamannya.

 

Bahan Bacaan

Adam, Asvi Warman. 2017. Perkembangan Pondok Pesantren Al-Hikmah 2 Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Add Comment